Menulis apa yang ku jalani, dan menjalani apa yang ku tulis

  1.  

    Kamu kah Itu?

    Sabtu pagi jam menunjukkan pukul 8. Aku bersiap menuju Polres Sidoarjo. Ngapain? Mau mengurus SIM, sudah tes, cuma tinggal foto aja. Tiba di Polres setengah jam kemudian. Lalu ku taruh sepeda dan langsung menuju tempat pengambilan formulir.

    Kukira hari itu akan sepi karena hari Sabtu sebelumnya, waktu ayah dan ibuku mengurus SIM tidak begitu terlihat antrean yang panjang. Namun, pagi itu sungguh ramai, penuh sesak. Berjubel orang yang mengantre. Langsung ku ambil formulir pembayaran bank dan mengisinya di luar.

    Saat mengisi formulir, ternyata ada beberapa orang yang juga sama denganku. Mengurus SIM. Tapi terlihat bingung mau apa.

    "Mas, udah tes sama praktik?" tanyaku.

    "Udah, mas. Trus habis gini ke mana ya mas?"

    "Mas langsung ke dalam, minta formulir pembayaran ke bank. Ntar mas ngisi kayak contoh ini." kataku sambil menunjuk form contoh pembayaran di bank. 

    Aku pun meneruskan mengisi formulir dan segera ke bank untuk membayar biaya pembuatan SIM. Lalu kembali ke tempat yang sama waktu mengambil formulir tadi.

    Alamak! Ini antre mau foto apa ngantre sembako? Penuh sesak orang mengantre menunggu giliran untuk dipanggil. Aku pun masuk dalam desakan orang-orang itu untuk menaruh formulirku agar segera diproses.

    Saat menaruh formulirku itu kulihat sekilas wajah seorang gadis. Berkerudung dan berwajah seperti gadis yang pernah kukenal. Bagaimana tidak kenal, toh kita pernah tertawa dan berbagi rasa bersama.

    "Kamu? Mungkinkah?"

    Hatiku bertanya-tanya, benarkah itu kamu? Kenapa sendiri di tempat seperti ini? Aku pun mundur ke belakang, memberi kesempatan kepada orang lain yang akan menumpuk formulirnya juga.

    Dari belakang ku lihat, ku perhatikan gadis di depanku yang hanya berjarak beberapa tubuh dariku. Dia menoleh, memandang ke arahku. Bukan sekali saja. Beberapa kali. Lebih dari tiga kali. Tapi ku acuhkan pandanganku ke arah lain. Bukan tidak peduli, tapi takut ke-geer-an.

    Entah mengapa dia sangat mirip denganmu. Caranya berkerudung, paras wajahnya dan EG yg dipakai juga sama dengan yang kamu pakai. Kamukah itu? Tapi kok agak kurusan? Bukan, bukan kurusan tapi kecilan. Seingatku tinggimu hampir sama denganku. Hanya selisih beberapa senti saja. Aku masih ingat dulu ketika memandang indah matamu saat kita bersama. Mata kita hampir sejajar.

    Aku pun berpindah ke kanan. Maju beberapa langkah supaya sejajar dengannya. Yap, kami berdiri sejajar di depan antrean. Hanya terpisah seorang bapak saja. Dan pandangan gadis itu tidak lagi ke kiri. Tapi ke kanan. Ke arahku. Sama, beberapa kali. Hanya saja kali ini kurasa dia memandangku lebih lama. Entah kenapa.

    "Hey, kalau itu benar-benar kamu sapalah aku." kataku dalam hati.

    "Ah, akan kutunggu sampai namanya dipanggil. Kalau itu benar kamu, aku akan menujumu. Menyapamu. Walau sekedar berkata lama tak ketemu."

    Setengah jam kemudian gadis itu mundur mencari tempat duduk yang kosong. Mungkin kelelahan. Maklum antrean yang padat dan suhu udara yang mulai panas pasti membuat kita gerah. Aku sempat merasa deg-degan menanti namanya dipanggil untuk memastikan bahwa dia itu kamu atau bukan.

    Nama demi nama dipanggil. Akhirnya sekitar 20 menit kemudian sebuah nama dipanggil dan gadis itu beranjak menuju meja pengambilan nomor urut foto. Tahukah nama gadis itu?

    "Fitriah Wahyuni" panggil ibu petugas administrasi.

    Deg, serrrr …. 

    Lega dan …. kecewa. Itu bukan nama kamu. Aku tertawa sendiri dalam hati. Tuhan belum mempertemukan kita. Itu pikirku. Aku yang terlalu ge er mengira dia adalah kamu. Ya sudahlah, anggap saja ini sebagai hiburan selama menunggu antrean yang cukup lama.

    Singkatnya, selama satu setengah jam lebih aku berdiri berdesakan menunggu giliran foto. Mendapat nomor urut 176. Setelah foto, kutunggu 10 menit SIM A ku pun jadi. Pulang dengan hati yang plong.

    Sidoarjo, 29 Maret 2014

  2.  

    Meja Persaudaraan yang Telah Usang

    Aku tahu apa yg kalian rasakan, BOSAN, LELAH, yah aku pun begitu. Dan satu per satu dari kalian mulai memundurkan kursi. Hey, aku pun ingin begitu. Ingin sama seperti kalian, merengkuh kebebasan diri masing-masing. Tapi apa dayaku, aku terikat oleh sebuah tanggung jawab yang tak dapat kutinggal. Tanggung jawab yang lebih besar dari kalian. Kalau bisa aku hanya ingin menjadi free line saja. Tak terikat oleh apa pun. Namun kini tanggung jawab yang besar itu melekat di pundakku.

    Entahlah, awalnya itu hanyalah sebuah kesenangan. Bertualang, keluar dari zona nyaman yang semakin jenuh. Aku sangat senang akan hal itu. Karenanya aku bergabung dengan mereka, para petualang. Berbagi rasa, pengalaman dan cerita. Mengangkat cangkir-cangkir kopi tanda persaudaraan.

    Sebenarnya aku tak ingin menerima tanggung jawab yang besar ini. Kenapa? Aku hanyalah seorang awam. Ini pengalaman pertamaku, di kampus ini. Aku pun mulai dari awal, masih perlu belajar banyak dari mereka dan kalian. Tapi entah mengapa mereka dan kalian memilihku untuk menerima tanggung jawab besar ini. Dalam mindsetku tertanam sebuah kalimat “Tak begitu penting sebuah posisi, lebih penting sebuah kontribusi yang pasti”. Sekali lagi kutekankan, aku lebih suka menjadi seorang free line.

    Lalu? Kenapa kalian memundurkan kursi setelah menyatukan suara kalian? Hey, di mana sorak sorai kebersamaan itu dulu? Persaudaraan dalam sebuah meja kini hanya menyisakan meja berdebu. Kursi yang kosong yang mulai usang.

  3.  

    Soloist, Itulah Aku

    Sore itu, ketika kita menikmati semilir angin di bawah naungan langit senja. Saling terdiam tak berkata sepatah pun. Hanya bisikan angin yang membawa kesejukan menemani kita. Sejenak kau menatapku. Mungkin heran karena kita berdua hanya terdiam.

    Kau: D, aku ingin tahu apa yang kamu rasakan saat ini.

    Aku: Hmmm, ketenangan. Itu yang kurasakan saat ini. Aku selalu senang ketika angin berembus menerpaku. Ada kesejukan yang membawa pergi kalutnya pikiranku. Senja yang indah.

    Kau: Kalau aku?

    Aku: Hahahaha, memangnya kamu kenapa?

    Kau: Yang indah senja atau aku? Kulihat kamu menatapku sejenak tadi. (Sambil menatapku dengan tatapan centil dan senyum manja)

    Aku: Emmm, ya kamu cantik. Semua wanita khan cantik, bukan begitu?

    Kau: Yeee.... Eh, aku mau tanya lagi D! Kamu pernah nulis kalo kamu 'soloist', maksudnya bagaimana?

    Aku: Hmmm, gimana ya? Mungkin hakikatnya mirip single.

    Kau: Kenapa?

    Aku: Kenapa? Itu pilihanku. Aku lebih senang menikmati kebebasan diriku. Menikmati petualangan masa mudaku tanpa berpelik dengan status pacaran atau apalah itu. Yang bagiku itu terlalu mengekang. Kalau tentang kedekatan hubunganku dengan cewek aku lebih memilih untuk jadi sahabat atau saudara.

    Kau: Memang apa bedanya?

    Aku: Kalo pacaran cuma awalnya manis, lama-lama juga bosan. Akhirnya kalo putus juga musuhan. Nggak mau ngomong satu sama lain. Alasannya takut nggak bisa move on. Trus ngapain juga kalo pacaran, mesra-mesraan tapi akhirnya putus dan saling menghindar? Beda kalo menganggap saudara atau sahabat. Hubungan saudara atau sahabat nggak akan lekang oleh waktu. Nggak ada expired-nya. Toh, kalo musuhan juga akan saling memaafkan. Saling jujur.

    Kau: Sampai kapan kamu akan begitu?

    Aku: Hmmm, aku saat ini masih menutup rapat pintu hatiku. Menguncinya dan keserahkan pada Allah kuncinya. Aku belum tahu pada siapa kunci itu diserahkan oleh-Nya. Yang kutahu wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Demikian juga sebaliknya. Jadi aku mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Terutama dalam hal agama dan akhlak. Kalo mencari wanita yang memegang kunci hatiku, aku akan mencari karena 4 hal yang diajarkan oleh Rasul. Agamanya, keturunannya, kecantikan dan kekayaan.

    Kau: Kalo sifatnya bagaimana?

    Aku: Orang yang agamanya baik, sifatnya juga insya Allah baik juga.

    Kau: Apa kamu pernah mencintai seseorang D?

    Aku: Tentu saja pernah. Aku masih normal. Setiap orang pasti pernah menyukai seseorang bukan?

    Kau: Lalu, bagaimana hubungan kalian?

    Aku: Biasa. Hanya sebatas teman akrab saja.

    Kau: Kamu tidak menyatakan perasaanmu padanya D? Atau dia menolakmu?

    Aku: Aku tidak menyatakannya. Hanya kudiamkan saja dalam hati.

    Kau: Kenapa D? Padahal kamu suka sama dia khan?

    Aku: Hmmm, karena situasi, kondisi dan posisi saat itu. Kalau aku nyatakan perasaanku dan dia menerimanya aku khawatir akan posisiku saat itu. Dan juga pasti hanya akan cinta monyet biasa. Kalau ditolak, pastinya kami berdua akan saling menjauhi, tidak akan saling menyapa. Semua akan indah pada waktunya kelak. Yap, semua akan indah seperti indahnya senja ketika waktunya datang. Bahkan mungkin lebih indah dari senja ini.

  4.  
    Yang paling dekat dengan hatiku adalah seorang raja yang tidak memiliki singgasana dan seorang miskin yang tidak tahu caranya mengemis.
    – Kahlil Gibran
  5.  
    Orang gunung berteriak girang menjejak pantai, anak pantai bergumam kagum mendaki gunung.
    – Faras, Tahta Mahameru
  6.  

    Ku kan Selalu di Sampingmu

    Aku tak kan berjalan di belakangmu, hingga akhirnya kau tak bisa mendengarku

    Aku tak kan berjalan di depanmu, berjalan terlampau jauh di depan dan meninggalkanmu sendiri.

    Aku kan selalu di sampingmu, berjalan beriringan denganmu bergandeng tangan saling berjuang menggapai asa kita.

  7.  

    Rumus bahagia:
    Jangan suka membandingkan diri dengan orang lain terkait dunia

    Rumus hidup semangat:
    Miliki impian tinggi dan pelihara jangan sampai sirna

    Rumus menggapai impian:
    Jangan sampai menyerah sampai impian itu tergapai

    Rumus damainya jiwa:
    Ingat Allah dalam sempit dan lapang

    – Pejalan Waktu
  8.  

    Kisah Seekor Anak Singa

    Alkisah, di sebuah hutan belantara ada seekor induk singa yang mati setelah melahirkan anaknya. Bayi singa yang lemah itu hidup tanpa perlindungan induknya. Beberapa waktu kemudian serombongan kambing datang melintasi tempat itu. Bayi singa itu menggerakgerakkan tubuhnya yang lemah. Seekor induk kambing tergerak hatinya. Ia merasa iba melihat anak singa yang lemah dan hidup sebatang kara. Dan terbitlah nalurinya untuk merawat dan melindungi bayi singa itu.

    Sang induk kambing lalu menghampiri bayi singa itu dan membelai dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Merasakan hangatnya kasih sayang seperti itu, sibayi singa tidak mau berpisah dengan sang induk kambing. Ia terus mengikuti ke mana saja induk kambing pergi. Jadilah ia bagian dari keluarga besar rombongan kambing itu. 

    Hari berganti hari, dan anak singa tumbuh dan besar dalam asuhan induk kambing dan hidup dalam komunitas kambing. Ia menyusu, makan, minum, bermain bersama anak-anak kambing lainnya.

    Tingkah lakunya juga layaknya kambing. Bahkan anak singa yang mulai berani dan besar itu pun mengeluarkan suara layaknya kambing yaitu mengembik bukan mengaum! la merasa dirinya adalah kambing, tidak berbeda dengan kambingkambing lainnya. Ia sama sekali tidak pernah merasa bahwa dirinya adalah seekor singa.

    Suatu hari, terjadi kegaduhan luar biasa. Seekor serigala buas masuk memburu kambing untuk dimangsa. Kambing-kambing berlarian panik. Semua ketakutan. Induk kambing yang juga ketakutan meminta anak singa itu untuk menghadapi serigala. 

    ”Kamu singa, cepat hadapi serigala itu! Cukup keluarkan aumanmu yang keras dan serigala itu pasti lari ketakutan!” Kata induk kambing pada anak singa yang sudah tampak besar dan kekar.

    Tapi anak singa yang sejak kecil hidup di tengah-tengah komunitas kambing itu justru ikut ketakutan dan malah berlindung di balik tubuh induk kambing. Ia berteriak sekeras-kerasnya dan yang keluar dari mulutnya adalah suara embikan. Sama seperti kambing yang lain bukan auman. Anak singa itu tidak bisa berbuat apa-apa ketika salah satu anak kambing yang tak lain adalah saudara sesusuannya diterkam dan dibawa lari serigala.

    Induk kambing sedih karena salah satu anaknya tewas dimakan serigala. Ia menatap anak singa dengan perasaan nanar dan marah, ”Seharusnya kamu bisa membela kami! Seharusnya kamu bisa menyelamatkan saudaramu! Seharusnya bisa mengusir serigala yang jahat itu!” 

    Anak singa itu hanya bisa menunduk. Ia tidak paham dengan maksud perkataan induk kambing. Ia sendiri merasa takut pada serigala menyaksikan peristiwa itu dengan rasa cemas yang luar biasa. Induk kambing itu heran, kenapa singa yang kekar itu kalah dengan serigala. Bukankah singa adalah raja hutan? Tanpa memberi ampun sedikitpun serigala itu menyerang anak singa yang masih mengaduh itu. Serigala itu siap menghabisi nyawa anak singa itu. Di saat yang kritis itu, induk kambing yang tidak tega, dengan sekuat tenaga menerjang sang serigala. Sang serigala terpelanting. Anak singa bangun.

    Dan pada saat itu, seekor singa dewasa muncul dengan auman yang dahsyat!

    Semua kambing ketakutan dan merapat! Anak singa itu juga ikut takut dan ikut merapat. Sementara sang serigala langsung lari terbirit-birit. Saat singa dewasa hendak menerkam kawanan kambing itu, ia terkejut di tengah-tengah kawanan kambing itu ada seekor anak singa.

    Beberapa ekor kambing lari, yang lain langsung lari. Anak singa itu langsung ikut lari. Singa itu masih tertegun. Ia heran kenapa anak singa itu ikut lari mengikuti kambing? Ia mengejar anak singa itu dan berkata, ”Hai kamu jangan lari! Kamu anak singa, bukan kambing! Aku tak akan memangsa anak singa!”

    Namun anak singa itu terus lari dan lari. Singa dewasa itu terus mengejar. Ia tidak jadi mengejar kawanan kambing, tapi malah mengejar anak singa. Akhirnya anak singa itu tertangkap. Anak singa itu ketakutan, ”Jangan bunuh aku, ammpuun!”

    ”Kau anak singa, bukan anak kambing. Aku tidak membunuh anak singa!”

    Dengan meronta-ronta anak singa itu berkata, ”Tidak aku anak kambing! Tolong lepaskan aku!”

    Anak singa itu meronta dan berteriak keras. Suaranya bukan auman tapi suara embikan, persis seperti suara kambing.

    Sang singa dewasa heran bukan main. Bagaimana mungkin ada anak singa bersuara kambing dan bermental kambing. Dengan geram ia menyeret anak singa itu ke danau. Ia harus menunjukkan siapa sebenarnya anak singa itu. Begitu sampai di danau yang jernih airnya, ia meminta anak singa itu melihat bayangan dirinya sendiri. Lalu membandingkan dengan singa dewasa.

    Begitu melihat bayangan dirinya, anak singa itu terkejut, ”Oh, rupa dan bentukku sama dengan kamu. Sama dengan singa, si raja hutan!”

    ”Ya, karena kamu sebenarnya anak singa. Bukan anak kambing!” Tegas singa dewasa.

    ”Jadi aku bukan kambing? Aku adalah seekor singa!”

    ”Ya kamu adalah seekor singa, raja hutan yang berwibawa dan ditakuti oleh seluruh isi hutan! Ayo aku ajari bagaimana menjadi seekor raja hutan!” Kata sang singa dewasa.

    Singa dewasa lalu mengangkat kepalanya dengan penuh wibawa dan mengaum dengan keras. Anak singa itu lalu menirukan, dan mengaum dengan keras. Ya mengaum, menggetarkan seantero hutan. Tak jauh dari situ serigala ganas itu lari semakin kencang, ia ketakutan mendengar auman anak singa itu.

    Anak singa itu kembali berteriak penuh kemenangan, ”Aku adalah seekor singa! Raja hutan yang gagah perkasa!”

    Singa dewasa tersenyum bahagia mendengarnya.

    Saya tersentak oleh kisah anak singa di atas! Jangan jangan kondisi kita, dan sebagian besar orang di sekeliling kita mirip dengan anak singa di atas. Sekian lama hidup tanpa mengetahui jati diri dan potensi terbaik yang dimilikinya.

    Betapa banyak manusia yang menjalani hidup apa adanya, biasabiasa saja, ala kadarnya. Hidup dalam keadaan terbelenggu oleh siapa dirinya sebenarnya. Hidup dalam tawanan rasa malas, langkah yang penuh keraguan dan kegamangan. Hidup tanpa semangat hidup yang seharusnya. Hidup tanpa kekuatan nyawa terbaik yang dimilikinya.

    Saya amati orang-orang di sekitar saya. Di antara mereka ada yang telah menemukan jati dirinya. Hidup dinamis dan prestatif. Sangat faham untuk apa ia hidup dan bagaimana ia harus hidup. Hari demi hari ia lalui dengan penuh semangat dan optimis. Detik demi detik yang dilaluinya adalah kumpulan prestasi dan rasa bahagia. Semakin besar rintangan menghadap semakin besar pula semangatnya untuk menaklukkannya.

    Namun tidak sedikit yang hidup apa adanya. Mereka hidup apa adanya karena tidak memiliki arah yang jelas. Tidak faham untuk apa dia hidup, dan bagaimana ia harus hidup. Saya sering mendengar orang-orang yang ketika ditanya, ”Bagaimana Anda menjalani hidup Anda?” atau ”Apa prinsip hidup Anda?”, mereka menjawab dengan jawaban yang filosofis, ”Saya menjalani hidup ini mengalir bagaikan air. Santai saja.”

    Tapi sayangnya mereka tidak benar-benar tahu filosofi ’mengalir bagaikan air’. Mereka memahami hidup mengalir bagaikan air itu ya hidup santai. Sebenarnya jawaban itu mencerminkan bahwa mereka tidak tahu bagaimana mengisi hidup ini. Bagaimana cara hidup yang berkualitas. Sebab mereka tidak tahu siapa sebenarnya diri mereka? Potensi terbaik apa yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada mereka. Bisa jadi mereka sebenarnya adalah ’seekor singa’ tapi tidak tahu kalau dirinya ’seekor singa . Mereka menganggap dirinya adalah ’seekor kambing sebab selama ini hidup dalam kawanan kambing.

    Filosofi menjalani hidup mengalir bagaikan air yang dimaknai dengan hidup santai saja, atau hidup apa adanya bisa dibilang prototipe, gaya hidup sebagian besar penduduk negeri ini. Bahkan bisa jadi itu adalah gaya hidup sebagian besar masyarakat dunia Islam saat ini. Kebiasaan yang akhirnya menjadi budaya turun temurun.

    Kenapa tidak berubah?

    Jawabnya karena mereka tidak mau berubah.

    Kenapa tidak mau berubah?

    Jawabnya karena mereka tidak tahu bahwa mereka harus berubah.

    Bahkan kalau mereka tahu mereka harus berubah, mereka tidak tahu bagaimana caranya berubah. Sebab mereka terbiasa hidup pasrah. Hidup tanpa rasa berdaya dalam keluh kesah.

    Ada seorang sastrawan terkemuka, yang demi melihat kondisi bangsa yang sedemikian akut rasa tidak berdayanya sampai dia mengatakan, 

    ”Aku malu jadi orang Indonesia!”

    Di mana-mana, kita lebih banyak menemukan orang orang bermental lemah, hidup apa adanya dan tidak terarah. Orang-orang yang tidak tahu potensi terbaik yang diberikan oleh Allah kepadanya. Orangorang yang rela ditindas dan dijajah oleh kesengsaraan dan kehinaan. Padahal sebenarnya jika mau, pasti bisa hidup merdeka, jaya, berwibawa dan sejahtera.

    Tak terhitung berapa jumlah masyarakat negeri ini yang bermental kambing. Meskipun sebenarnya mereka adalah singa! Banyak yang minder dengan bangsa lain. Seperti mindernya anak singa bermental kambing pada serigala dalam kisah di atas. Padahal sebenarnya, Bangsa ini adalah bangsa besar! Ummat ini adalah ummat yang besar!

    Bangsa ini sebenarnya adalah singa dewasa yang sebenarnya memiliki kekuatan dahsyat. Bukan bangsa sekawanan kambing. Sekali rasa berdaya itu muncul dalam jiwa anak bangsa ini, maka ia akan menunjukkan pada dunia bahwa ia adalah singa yang tidak boleh diremehkan sedikitpun.

    Bangsa ini sebenarnya adalah Sriwijaya yang perkasa menguasai nusantara. Juga sebenarnya adalah Majapahit yang digjaya dan adikuasa. Lebih dari itu bangsa ini, sebenarnya, dan ini tidak mungkin disangkal, adalah ummat Islam terbesar di dunia. Ada dua ratus juta ummat Islam di negeri tercinta Indonesia ini.

    Banyak yang tidak menyadari apa makna dari dua ratus juta jumlah ummat Islam Indonesia. Banyak yang tidak sadar. Dianggap biasa saja. Sama sekali tidak menyadari jati diri sesungguhnya.

    Dua ratus juta ummat Islam di Indonesia, maknanya adalah dua ratus juta singa. Penguasa belantara dunia. Itulah yang sebenarnya. Sayangnya, dua ratus juta yang sebenarnya adalah singa justru bermental kambing dan berperilaku layaknya kambing. Bukan layaknya singa. Lebih memperihatinkan lagi, ada yang sudah menyadari dirinya sesungguhnya singa tapi memilih untuk tetap menjadi kambing. Karena telah terbiasa menjadi kambing maka ia malu menjadi singa! Malu untuk maju dan berprestasi!

    Yang lebih memprihatinkan lagi, mereka yang memilih tetap menjadi kambing itu menginginkan yang lain tetap menjadi kambing. Mereka ingin tetap jadi kambing sebab merasa tidak mampu jadi singa dan merasa nyaman jadi kambing. Yang menyedihkan, mereka tidak ingin orang lain jadi singa. Bahkan mereka ingin orang lain jadi kambing yang lebih bodoh!

    Marilah kita hayati diri kita sebagai seekor singa. Allah telah memberi predikat kepada kita sebagai ummat terbaik di muka bumi ini. Marilah kita bermental menjadi ummat terbaik. Jangan bermental ummat yang terbelakang. Allah berfirman, ”Kalian adalah sebaik baik ummat yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.!” Q.S. Ali Imron: 110.

    Sumber: Novel Ketika Cinta Bertasbih 2.

  9.  

    #sowanB3IBS - Sebuah Perjalanan “60 Jaran Cerita” (Hari ke-2)

    image

    Hari Minggu pagi tanggal 9 Februari 2014 sekitar pukul setengah lima aku terbangun. Ternyata teman-teman yg laen udah pada bangun. Jalanan depan rumah Yufi ramai orang-orang ‘mlijo’ (orang berjualan semacam sayur-mayur, lauk-pauk, rempah atau bumbu-bumbu dapur lainnya) yg berlalu-lalang. Setelah sholat Shubuh dan mandi bergantian (ya, masa’ mandi bareng?) Ian berpamitan pulang terlebih dahulu. Dan pukul tujuh pagi sarapan tersedia. Soto. Makan pagi yg begitu nikmat, sebuah kebersamaan yg hangat di pagi hari.

    Sekitar pukul delapan pagi kami pamitan kepada orang tua Yufi dan berangkat menuju Mojokerto, rumah Dewan saja. Awalnya rumah Novita juga, tapi tidak jadi karena empunya rumah ada acara keluarga keluar. Ian juga mengabari tidak bisa ikut menemani.

    Perjalanan yg cukup singkat karena jalanan pagi itu tak begitu ramai. Sampai di rumah Dewan kami mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari empunya rumah. Kata bapak yg kerja di samping rumahnya orangnya nyelawat. Kami menunggu sambil mengirim sms dan mencoba menelpon Dewan berkali-kali, tidak ada jawaban. Lalu tanya Yasko “Yaxo” minta nomor adiknya Dewan, dan akhirnya Agung “Gambli” menghubungi adiknya. Kami menunggu cukup lama di bawah sinar matahari yg mulai terasa panas. Miapah coba? Demi ketemu adiknya Dewan yg kata Agung “Gambli” cantiknya wew, nah lho bukan untuk ketemu Dewan ternyata?

    Saat bercakap-cakap ternyata ada ibunya Dewan keluar rumah. Lho kok? Beliau keluar sambil membawa hp-nya Dewan sambil menunjukkan kepada kami. Sekitar dua puluhan sms lebih dan 19 panggilan tak terjawab. Beliau tidak bisa menjawab karena dikunci. Waduh, ternyata …

    Ibunya mempersilakan kami masuk. Beliau bercerita banyak sekali. Tentang bagaimana Dewan sekarang, tentang adiknya Dewan yg namanya Mifta -awalnya kami mencoba menebak nama adiknya itu Dewi- yg rajin, beliau yg tidak suka si Mifta sekolah di SMK jurusan T. Pembangunan, tentang Dewan dan pacarnya, Wulan, dll. Oh iya Dewan juga sempat disuruh ibunya jualan es tebu (yg pada selanjutnya kami buat bahan guyonan kalau mau melamar adiknya Dewan, si Mifta, harus punya gilingan tebu :D). Beliau banyak bercerita tentang kehidupan keluarganya, terutama anak-anaknya. Satu kalimat yg kuingat sampai sekarang dari beliau “Laki-laki itu menang memilih. Tapi kamu harus punya aji (sulit menemukan kata yg pas dari bahasa Jawanya ‘aji’). Kalau kamu tidak punya aji, perempuan mana yg mau dipilih sama kamu?”.

    Akhirnya Dewan datang, namun dia pamitan menjemput adiknya yg jualan di pasar (tugas sekolah, kewirausahaan). Sekitar dua puluh menit mereka, Dewan dan adiknya, sampai rumah. Oke, kuakui Agung “Gambli” benar, adiknya Dewan cantik dan imut :D. Bersalaman. Tidak lama kami berpamitan pulang karena sudah siang. Tak lupa kami berfoto bersama, sayang banget adiknya Dewan nggak mau diajak foto bareng. Malu katanya.

    Perjalanan kami lanjutkan ke rumah Arif “Cepot”, Jombang. Kami tidak melewati jalan provinsi tapi jalur utara yg merupakan jalan alternatif yg mengikuti alur sungai Brantas. Jalanan berliku melewati rumah-rumah penduduk yg masih berbentuk atap Joglo. Melintasi hamparan hijau sawah padi. Akhirnya tinggal satu jalan lurus, tapi tak semulus paha Cherrybell (ambil kata dari temen satu kos :D). Jalan setapak yg berbatu sejauh 2 km membelah hijaunya sawah kami lewati. Akhirnya sampai di rumah Arif. Yg lebih unik di depan rumah Arif ada Posyandu yg awalnya kukira gudang menyimpan padi. Mengapa? Karena bangunannya bentuk atap joglo dan udah kelihatan tua banget.

    Sampai sana langsung pasang bendera depan rumah dan menggelar banner. Kami menagih rawon yg kata si Arif harganya cuma 3k (tiga ribu perak :o). Ternyata masih belum buka kalo siang. Ya udah dibeliin rujak sama empunya rumah yg harganya sama-sama 3k. Berangkat naek motor, pulangnya kok jalan kaki? Ternyata rujaknya diantar yg jualan pake motornya si Arif. Hahaha … ada-ada aja. Bismillah, barokallah. Buka bungkus Agung “Gambli” langsung tanya,”Apaan nih?”.

    "Dede!", jawabku singkat. (Kok sama kayak nama panggilanku waktu SMP ya?). JFYI kalo belum tau apa itu dede. Dede itu darah binatang waktu nyembelih ditadahin, trus direbus sampe warnanya coklat. Kalo udah keras baru dipotong-potong lalu digoreng. Sekilas emang mirip kayak hati ayam habis digoreng.

    Bisa ditebak, semua temen termasuk si Arif, menyisihkan dede itu. Ajaran agama Islam melarang kami makan darah binatang yg di dalamnya banyak penyakit.

    Allah berfirman dalam QS Al-Baqoroh ayat 168 yg artinya “Wahai manusia! Makanlah dari apa yang ada di bumi ini barang yang halal lagi baik, dan jangan kamu ikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya dia bagi kamu adalah musuh yang sangat nyata.

    Oke lanjut ceritanya. Aku teringat jajanan lepet milik Agung “Gambli” dan kacang Shanghai dari Ian yg kubawa. Udah Sehari semalam kehujanan di sepeda motor. Kubuka ternyata lepet milik Agung “Gamlbi” udah berubah wujud jadi Yombie (bukan Zombie). Udah ada jamurnya warna oranye :D. Akhirnya kami berikan lepet itu ke Arif untuk makanan itik. Entah itiknya ikut jadi Yombie atau nggak.

    Habis makan langsung pamitan (udah kebiasaan). Perjalanan kami lanjutkan ke Pare. Rumah Nanda “Boncel”. Siang panas terik sorenya hujan cukup lebat. Kami sepakat menunggu Nanda di depan alun-alun (kalo menurutku taman) Pare. Nyangkruk dulu di pos polisi. Nanda datang dan mengantar kami ke rumahnya.

    Sampe di rumah Nanda hujan udah reda. Kami mencuci kaki dan ke kamar tidur. Lho, bukan ding. Habis cuci kaki cuci bendera karena kotor dibuat jas hujan sama si Fajar (benderanya waterproof lho). Trus masang bendera di pohon depan rumah Nanda.

    Satu hal yg membuat rumah Nanda beda dengan yg lain, free Wifi. Kecepatannya juga patut diacungi jempol. Upload foto-foto dan bahas si Mifta adiknya Dewan (lagi). Kali ini kami berlomba mencari facebook milik Mifta. Hanya Fachrul yg tau nama facebooknya. Kami juga sempat menjahili Agung “Gambli” dengan mengetik sms ke Mifta yg isinya “Dhek bilang ke ibu aku udah punya gilingan tebu”. Tapi akhirnya nggak jadi kami kirim karena nantinya malah akan membuat masalah. Setelah upload foto selesai kami ke ruang makan. Kali ini menunya adalah soto (untuk yg kedua kali). Selesai makan, foto-foto, Nanda nempel stiker lalu kami pamit melanjutkan perjalanan. Awalnya Nanda akan ikut, tapi nggak jadi karena nggak enak badan.

    Perjalanan berlanjut ke rumah Arnel/Raka “Kernel” melewati pabrik Gudang Garam. Awalnya kami ke rumah Dila lalu ke rumah Arnel. Tapi karena nggak ada yg tau rumahnya Dila, kami ke rumah Arnel dulu. Sampai di rumah Arnel ternyata si doi lagi keluar nganter ibunya. Jadilah kami menunggu cukup lama. Ada omnya si Arnel yg menyambut kami dan menyuguhi kami maen PS2. Akhirnya si Fajar dan Fachrul maen Winning Eleven 6 yg udah lumayan jadul dengan serunya sambil menunggu Arnel datang. Si Arnel datang dengan 2 botol Big Cola ukuran jumbo. Woh rasanya (y). Foto-foto, lalu pamitan. Arnel ikut kami, dia nagnter ke rumah Dila.

    Setelah pamitan kami ke masjid terdekat, sholat jama’ Maghrib-Isya’. Lalu ke rumah Dila. Sampe di depan rumah Dila kami disambut sama keluarganya. Ada aura yg beda dengan rumah temen-temen yg laen. Bukan aura yg serem/mistis. Entahlah, aku juga tidak begitu paham dengan aura suatu rumah.

    Di sana kami disuguhi dengan martabak dan rambutan yg melimpah. Panen dari pohon di belakang rumah kata ibunya Dila.Tak lama aku mendapat sms dari temen SMK dulu, Maya. Dia bilang kalo di masjid tadi liyat aku dkk sholat dan sempat nunggu. Tapi karena dia sama rombongan yg harus melanjutkan perjalananya jadi nggak bisa ketemuan.

    Waktu aku dan Fajar ijin ke kamar mandi kulihat ada 2 anggrek yg menggantung. Sangat subur dan sedang berbunga. Sama-sama anggrek bulan, yg satu jenisnya Phalaenopsis amabilis dan yg satunya aku nggak begitu mengerti Phalaenopsis apa. Bunganya warna merah muda kecil-kecil. Kata Dila itu punya bapaknya dari dia SD udah melihara anggrek. Lalu ibunya manyahuti kalau di belakang rumahnya juga ada yg nempel di pohon, daunnya runcing kecil-kecil. Keluarga anggrek Dendrobium kurasa.

    Saat ke ruang tamu ternyata sudah tersedia makan malam. Menunya soto dan sate. Pagi, sore, malem SOTO! Jackpot dah! Habis makan kami memborong semua rambutan yg disajikan di meja ruang tamu. Foto-foto. Lalu pamitan ke Simpang Lima, Kediri.

    Di Simpang Lima kami foto dengan berbagai gaya. berkaliling merasakan sejuknya hembusan angin malam.

    Perjalanan kami lanjutkan ke rumah Syandu yg dipanggil P. Ahmad “Syauda”. Rumah Syandu adalah warkop Daha Lumintu. Lokasi tepat di depan SMK 1 Daha. Sepeda motor kami titipkan di dalam SMK. Lalu kami bersalaman dengan orangtua Syandu. Kami pun naek ke atas, kamar Syandu. Dari lantai 2 kami bisa melihat orang berlalu lalang di depan SMK. Agung “Gambli” menemukan binokular milik Syandu dan sebuah topeng. Sempat berpikir sejenak, kalo pagi apa Syandu ngintip anak SMK yg mayoritas cewek lewat depan rumahnya pake topeng dengan binokular?

    Malam itu kami disuguhi kopi susu khas Daha Lumintu. Aku melanjutkan upload foto dan menulis cerita perjalanan. Yg laen udah tepar sementara aku baru bisa tidur jam 2 pagi gara-gara Agung “Gambli” dan burung Perkutut milik Syandu duet konser. Mereka saling bersahutan secara bergantian. Hmmmm, sempat tersenyum sendiri, lucu juga dengernya.

    Gd. Nacht

    (Fortgesetzt werden / Bersambung)

  10.   Anggrek bulan “moon orchid” Phalaenopsis amabilis atau bisa disebut anggrek kumbang, anggrek kupu-kupu “moth orchid”. Sudah punya yg dari Jawa. Pingin spesies dari Kalimantan. Menarik, karena memiliki sepal bawah “sepal lateris” lebih panjang.

    Full image link →

    Anggrek bulan “moon orchid” Phalaenopsis amabilis atau bisa disebut anggrek kumbang, anggrek kupu-kupu “moth orchid”. Sudah punya yg dari Jawa. Pingin spesies dari Kalimantan. Menarik, karena memiliki sepal bawah “sepal lateris” lebih panjang.